Makalah Pedofilia

Please download to get full document.

View again

of 18
31 views
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.

Download

Document Related
Document Description
1. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Anak adalah anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa yang mana mereka perlu dilindungi harkat dan martabatnya serta dijamin hak-haknya…
Document Share
Document Transcript
  • 1. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Anak adalah anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa yang mana mereka perlu dilindungi harkat dan martabatnya serta dijamin hak-haknya untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan kodratnya. Anak sebagai generasi penerus bangsa, selayaknya mendapatkan hak-hak dan kebutuhan-kebutuhan secara memadai. Sebaliknya, mereka bukanlah objek (sasaran) tindakan kesewenang-wenangan dan perlakuan yang tidak manusiawi dan siapapun maupun dari pihak manapun. Anak yang dinilai rentan terhadap tindakan kekerasan dan penganiayaan, seharusnya dirawat, diasuh, dididik dengan sebaik-baiknya agar mereka tumbuh dan berkembang secara sehat dan wajar. Hal ini tentu saja perlu dilakukan agar kelak di kemudian hari tidak terjadi generasi yang hilang.1 Mereka seringkali menjadi korban dan perlakuan salah dari orang dewasa. Akhir– akhir ini marak sekali kasus mengenai pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur dan pelakunya adalah orang yang lebih dewasa dari korban, dan diduga juga dikenal oleh korbannya sendiri, yang kemudian disebut dengan pedophilia yang kerap kali mereka alami. Anak laki-laki maupun perempuan dapat menjadi korban kejahatan itu. Namun, tak sedikit pula yang menjadi korban merupakan tetangga atau saudara dari pelaku penyimpangan seksual tersebut. Kekerasan terhadap anak-anak yang terjadi di sekitar kita, tidak saja dilakukan oleh lingkungan masyarakat sekitar anak, namun juga dilakukan oleh lingkungan keluarga anak sendiri baik orang tua maupun orang terdekat. Kasus-kasus kekerasan yang menimpa anak-anak, tidak saja terjadi di perkotaan tetapi juga di pedesaan. Karena kurangnya pengawasan, pengarahan, pergaulan bebas dikalangan anak–anak dan remaja. Pada masa remaja, seseorang akan mengalami perkembangan sebagai persiapan menjadi dewasa. Masa remaja adalah suatu tahap kehidupan yang bersifat peralihan dan tidak mantap. Di samping itu, masa remaja adalah masa yang rawan oleh pengaruh–pengaruh negatif, seperti narkoba, kriminal, dan kejahatan seks.2 1 Abu Huraerah, Kekerasan Tehadap Anak,(Bandung:Nusantara,2006), hlm.18. 2 Sofyan S. Wilis., Remaja dan Masalahnya, Mengupas Berbagai Bentuk Kenakalan Remaja, Narkoba, Free Sex dan Pemecahannya, (Bandung : Alfabeta, 2012), hlm.1. 1
  • 2. Dikatakan negatif, karena para remaja bersikap menyimpang. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya berbagai macam perilaku seksual yang disalurkan secara salah dan tidak pada tempatnya, misalnya seperti hubungan seksual sesama jenis, atau dengan anak di bawah umur. Faktor yang mendorong terjadinya pelecehan seksual tersebut adalah adanya pengaruh lingkungan, seperti beredarnya video–video berbau porno, film– film porno, gambar–gambar porno dan lain sebagainya. Dengan adanya media tersebut menjadi pengaruh yang besar bagi yang melihatnya, akibatnya banyak terjadi penyimpangan seksual terutama oleh anak di bawah umur. B. Rumusan Masalah 1. Apa itu Pedhopilia? 2. Contoh kasus apa yang terjadi di Indonesia? 3. Bagaimana Undang-undang tentang perlindungan anak yang berlaku di Indonesia ? 4. Bagaimana upaya untuk mencegah/meminimalisir kasus pedhopilia ini ? C. Tujuan Masalah 1. Untuk memberikan informasi terkait kasus pedhopilia 2. Untuk memberikan suatu upaya pada masyarakat untuk mencegah terjadinya kasus pedhopilia 3. Untuk mengetahui UU yang berlaku di Idnonesia tentang perlindungan anak BAB II PEMBAHASAN 2
  • 3. A. Pedophilia a. Pengertian Pedophilia Secara harafiah pedofilia berarti cinta pada anak-anak. Akan tetapi, terjadi perkembangan yang kemudian secara umum digunakan sebagai istilah untuk menerangkan salah satu kelainan perkembangan psikoseksual dimana individu memiliki hasrat erotis yang abnormal terhadap anak-anak.3 Pedofilia merupakan aktifitas seksual yang dilakukan oleh orang dewasa terhadap anak-anak di bawah umur. Kadang-kadang, anak yang menyediakan diri menjadi pasangan orang dewasa setelah melalui bujukan halus4 . Pedophilia digunakan untuk orang-orang yang secara eksklusif mempunyai ketertarikan seksual pada anak-anak pra-remaja yaitu, di bawah usia 13 tahun. Termasuk di dalamnya adalah Nepiophilia atau Infantophlia yaitu yang tertarik pada bayi dan anak- anak kecil (toddlers) yang berusia 0-3 tahun. Di luar itu ada juga yang tertarik pada anak- anak yang berusia antara 11-14 tahun yang disebut Hebephilia. Istilah Pedophilia mulai dikenal dalam dunia kedokteran sejak istilah itu diluncurkan oleh seorang psikiater dari Wina (Austria) bernama Dr. Richard von Krafft-Ebing (ia menggunakan istilah pedophilia erotica) dalam bukunya Psychopathia Sexualis (1886). Istilah ini kemudian makin populer di abad XX dan mulai masuk dalam berbagai kamus istilah kedokteran. Pedophilia didefinisikan dalam sebuah kamus diagnosis penyakit sebagai "kecenderungan ketertarikan seksual (sexual preference) pada anak-anak, baik laki-laki maupun perempuan atau keduanya, biasanya yang berusia praremaja atau remaja awal". Dalam kerangka ini, seseorang yang berusia 16 tahun ke atas dianggap memenuhi definisi ini jika ia mempunyai kecenderungan ketertarikan seksual yang menetap atau yang dominan pada anak-anak pra-remaja yang paling sedikit lima tahun lebih muda. Sementara itu kamus diagnostik yang lain menyatakan kriteria diagnostik untuk kelainan pedophilia dimaksudkan untuk diterapkan pada orang-orang yang secara sukarela mengakui paraphilia (kelainan seksual) ini ataupun yang tidak mau mengakui 3 Sawatri Supardi S. Bunga Rampai Kasus Gangguan Psikoseksual. PT. Refika Aditama, Bandung, 2005, hlm. 71. 4 Mohammad Asmawi. Lika-liku Seks Meyimpang Bagaimana Solusinya. Yogyakarta : Darussalam Offset, 2005, hlm. 93. 3
  • 4. bahwa ia mempunyai ketertarikan seksual pada anak-anak, terlepas dari bukti-bukti obyektif ke arah yang sebaliknya. Kamus diagnostik tersebut juga menggariskan kriteria untuk digunakan dalam menegakkan diagnosis dari gangguan ini. Di antaranya adalah adanya khayalan yang merangsang secara seksual, perilaku atau dorongan untuk terlibat dalam aktivitas seksual tertentu dengan anak praremaja (sampai batas usia 13 tahun) selama enam bulan atau lebih, atau jika orang yang bersangkutan melakukan sesuatu berdasarkan dorongan-dorongan ini atau merasa tertekan sebagai akibat dari adanya perasaan-perasaan ini. Kriteria ini juga mengindikasikan bahwa subyek harus berumur minimum 16 tahun dan anak atau anak-anak yang dikhayalkannya paling sedikit lima tahun lebih muda darinya, walaupun hubungan seksual yang terjadi antara anak berumur 12-13 tahun dengan seorang yang berusia remaja akhir perlu dikecualikan. Selanjutnya diagnosis lebih dikhususkan untuk jenis kelamin tertentu dari anak yang menjadi sasaran kalau tindakannya terbatas pada inses dan kalau ketertarikannya eksklusif atau non-eksklusif. Pedophilia eksklusif sering dikatakan sebagai pedophilia sejati. Mereka ini tidak tertarik secara erotik pada orang-orang dewasa seusianya, dan hanya tertarik pada anak-anak praremaja, baik dalam khayalan atau kehadiran yang nyata atau kedua-duanya. Sedangkan pedophilia non-eksklusif, bisa tertarik atau terangsang atau kedua-duanya, baik pada anak-anak maupun orang dewasa. Seperti sudah disebutkan di atas. Beberapa kamus diagnostik tidak mengharuskan adanya aktivitas seksual yang kasat mata terhadap anak praremaja. Jadi orang yang berkhayal seksual tentang anak praremaja sudah bisa didiagnosis sebagai pedophilia. Juga yang suka menunjukkan alat kelaminnya pada anak-anak (indicent exposure), suka mengintip anak-anak, atau suka menonton pornografi anak (voyeuristic) atau suka meraba-raba bagian kelamin anak-anak (frotteristic) dapat digolongkan sebagai pedophilia, walaupun selalu dianjurkan untuk memeriksanya dalam konteks sosial dan penilaian klinis lainnya sebelum menentukan diagnosis. Perlu diperhatikan pula bahwa di antara penyandang pedophilia ada yang bertipe ego-systonic dan ego-dystonic. Tipe ego-systonic adalah yang mengakui dirinya sebagai pedophilia dan menerima keadaan dirinya apa adanya, sedangkan tipe ego-dystonic 4
  • 5. adalah yang tahu bahwa dirinya pedophilia, tetapi ingin mengubah kecenderungan ketertarikan seksualnya itu, terkait dengan berbagai masalah psikologis atau masalah perilaku atau gabungan kedua masalah itu yang ditimbulkan sebagai dampak dari kecenderungan ketertarikan seksual itu. b. Faktor-faktor yang mempengaruhi seseorang melakukan Paedofil Sejumlah penelitian menunjukan bahwa anak-anak yang terlibat secara seksual dengan orang dewasa, memiliki latar belakang : a.Keluarga yang terpisah/orang tua bercerai b.Kondisi social ekonomi yang kurang/kemiskinan c.Kurang perhatian orang tua d.Mengalami hal atau perlakuan kekerasan seksual pada masa kecilnya e.Kehilangan cinta kasih dari orang-orang sekitarnya/orang yang seharusnya bertanggung jawab terhadap dirinya. Selain tersebut diatas masih banyak factor lain yang membuat seseorang melakukan pidofilia. Kenyataan kasus per kasus yang kerap ditemukan di masyarakat, umumnya pelaku adalah orang yang pernah mengalami kekerasan seksual sebelumnya. Diagnostik dan Statistik Manual Gangguan Mental Edisi ke-4 Edisi Revisi (DSM-IV-TR) menguraikan kriteria khusus untuk digunakan dalam diagnosis gangguan ini. Pelaku pidolfia terpacu dengan adanya fantasi seksual yang membangkitkan gairah, perilaku atau dorongan yang melibatkan beberapa jenis aktivitas seksual dengan anak praremaja (usia 13 atau lebih muda, meskipun permulaan pubertas dapat bervariasi) selama enam bulan atau lebih, dan bahwa subjek telah bertindak atas hal tersebut karena dorongan atau mengalami dari kesulitan sebagai hasil dari memiliki perasaan ini. Kriteria ini juga menunjukkan bahwa subjek harus berusia 16 tahun atau lebih tua dan bahwa seorang anak atau anak-anak mereka berfantasi tentang setidaknya terhadap anak yang berusia lima tahun lebih muda dari mereka, meskipun hubungan seksual berlangsung antara usia 12-13 tahun dan masa- masa akhir remaja disarankan untuk dikecualikan. Diagnosis lebih lanjut ditentukan oleh jenis kelamin anak orang tersebut tertarik, jika impuls atau tindakan terbatas pada inses, dan jika daya tarik adalah "eksklusif" atau "noneksklusif. 5
  • 6. c. Cara mengatasi pedofilia Terapi Binaural Beats - Normalizing Phedophilia merupakan sebuah terapi yang dirancang khusus oleh para ahli untuk mengatasi gangguan kejiwaan pedofilia. Terapi ini telah melewati proses penelitian panjang dan telah terbukti efektif dalam membantu seseorang mengurangi dan mencegah ekspresi perilaku pedofilia. Terapi Binaural Beats - Normalizing Phedophilia bekerja dengan memanfaatkan kekuatan otak manusia. Dimana saat menggunakan Terapi Binaural Beats - Normalizing Phedophilia ini, gelombang otak akan diubah frekuensinya menuju frekuensi yang telah ditentukan sehingga akan merasakan ketenangan dan rileksasi yang sangat dalam. Ketenangan dan rileksasi yang didapatkan saat menggunakan terapi ini akan memudahkan melepaskan semua masalah, gangguan dan dorongan seksual yang tidak lazim yang selama ini di rasakan. Ditambah lagi dengan stimulus positif dari terapi ini serta visualisasi yang di lakukan saat menggunakan terapi ini, akan memudahkan untuk menghilangkan gangguan pedofilia dari dalam pikiran bawah sadar. Karena pusat dari otak yang menggerakkan tubuh secara otomatis adalah pikiran bawah sadar. Saat mampu menghilangkan gangguan pedofilia dari dalam pikiran bawah sadar dan menggantikannya dengan kepribadian baru yang lebih positif maka gangguan pedofilia dapat di hilangkan. Namun untuk dapat menghilangkan gangguan pedofilia dari dalam pikiran bawah sadar tidaklah mudah, karena harus memiliki keinginan dan keyakinan yang kuat. Karena keyakinan akan mempengaruhi keberhasilan dalam usaha yang dilakukan untuk menghilangkan gangguan pedofilia dari dalam diri penyandang. Saat penyandang menggunakan terapi ini, lakukanlah visualisasi dengan baik dan dengan keyakinan yang kuat. B. Kasus pedophilia yang terjadi di Indonesia Kasus pelecehan seksual yang mengguncang sekolah internasional Karishma Vaswani Editor Indonesia, BBC News 7 Agustus 2014 6
  • 7. Masuk ke tahanan polisi di Jakarta Pusat bukan pekerjaan mudah. Anda harus menyerahkan tas dan semua bawaan akan diperiksa. Secara khusus petugas akan mencari telepon genggam atau peralatan rekaman. Begitu berada di dalam, saya melihat sejumlah pria -sebagian besar orang Indonesia- duduk di atas tikar di lantai, menemui keluarga atau kawan mereka. Sebagian besar penghuni tahanan ini adalah orang-orang yang diduga melakukan kejahatan kerah putih, penipuan bisnis, atau kasus-kasus penggelapan lain. Dua di antaranya, Neil Bantleman dan Ferdi Tjiong, masing-masing warga Kanada dan warga Indonesia, dituduh melakukan kejahatan yang paling memuakkan, yang mereka klaim tak pernah mereka lakukan. Saya menemui Neil dan Ferdi di tahanan polisi, hanya beberapa hari setelah masa penahanan mereka diperpanjang. Awalnya mereka ditahan dengan dugaan terlibat kasus pelecehan seksual di Jakarta International School (JIS) pada 14 Juli. Neil dan Ferdi mengatakan mereka dijebak. "Awalnya saya dan Ferdi dipanggil dalam kapasitas sebagai saksi," kata Neil. "Kemudian polisi mengubah status tersebut dan menetapkan kami sebagai tersangka dan kami ditahan. Saya kira ini memang rencana mereka [polisi] sejak awal. "Tak satu pun pertanyaan yang diajukan kepada kami layaknya pertanyaan kepada saksi. Mereka bertanya, apakah kami melakukan pelecahan seksual terhadap anak-anak? Apa pertanyaan semacam ini layak diajukan kepada saksi?" kata Neil. "Saya malu," kata Ferdi Thiong kepada saya. "Sebagai warga Indonesia saya malu dengan hukum Indonesia. Sudah lama saya mendengar bahwa hukum Indonesia memang kacau. Tapi baru sekarang saya mengalami sendiri dan merasakan bahwa hukum Indonesia tidak menghormati hak asasi manusia," kata Ferdi. Menggemparkan Kasus pelecehan seksual dengan korban murid JIS ini menggemparkan Indonesia. Warga secara dekat mengikuti perkembangan kasus ini melalui media. Kasusnya sendiri sangat pelik yang terus mengalami perubahan dalam beberapa bulan terakhir. 7
  • 8. Semuanya berawal pada Maret lalu, ketika kasus pelecehan seksual terhadap murid muncul di JIS. Seorang murid di TK JIS diyakini diperkosa beramai-ramai oleh beberapa petugas kebersihan. Orang tua murid mengajukan gugatan dan meminta ganti rugi US$12,5 juta terhadap JIS. Kemudian pada Juni muncul kasus kedua ketika orang tua murid mengklaim bahwa anak mereka menjadi korban pelecehan seksual. Kasus kedua inilah yang menjerat Neil dan Ferdi, dua guru di JIS. Tak satu pun pertanyaan yang diajukan kepada kami layaknya pertanyaan kepada saksi. Mereka bertanya, apakah kami melakukan pelecahan seksual terhadap anak- anak? Apa pertanyaan semacam ini layak diajukan kepada saksi?Neil Bantleman Kasus ini untuk pertama kalinya menyeret guru atau staf pengajar di sekolah tersebut. Tidak lama kemudian ibu korban dari kasus pertama juga menyatakan bahwa Neil dan Ferdi melakukan pelecehan seksual terhadap anaknya. Kasus berkembang dan nilai ganti rugi naik tajam menjadi US$125 juta. Tapi dalam wawancara dengan BBC, sang ibu ini menyatakan bahwa uang bukan menjadi motivasinya untuk membawa kasus ini ke pengadilan. Yang ia inginkan adalah keadilan bagi anaknya. "Saya marah," katanya dalam wawancara melalui telepon. "Saya menggugat dengan nilai gugatan US$125 juta karena saya marah. Saya tidak ingin mendapatkan uang tersebut karena sejatinya uang tidak bisa menebus atas apa yang terjadi terhadap anak saya," katanya. Tapi ia juga mengatakan siap untuk membatalkan gugatan ini jika JIS meminta maaf dan membayar kompensasi. "Ini bukan soal uang, tapi saya lelah dengan semua ini," katanya. "Saya ingin menatap ke depan. Anak saya masih trauma dan ketakutan setiap kali mengenakan celananya. Ia juga mengalami infeksi karena perkosaan tersebut. Kami menderita," katanya. Bukti kasus. 8
  • 9. Polisi meyakini bahwa mereka punya bukti yang cukup untuk menjerat Neil dan Ferdi, tapi menolak untuk membeberkan bukti yang dimaksud. "Ada keyakinan yang kuat bahwa perkara ini memang diyakinkan terjadi dan siap untuk disidangkan," kata Rikwanto, juru bicara Polda Metro Jaya. "Di Indonesia, kalau seseorang ditetapkan sebagai tersangka, itu berarti penyidik sudah punya keyakinan yang kuat bahwa ia bersalah atau kuat diduga bersalah, apalagi sampai ditahan. Tinggal pemberkasan saja," jelas Rikwanto. Berdasarkan hukum di Indonesia, seseorang bisa ditahan tanpa didakwa maksimal selama empat bulan sementara polisi melakukan penyelidikan dan mengembangkan kasus. JIS sendiri menegaskan bahwa tidak ada bukti kuat. Di Indonesia, kalau seseorang ditetapkan sebagai tersangka, itu berarti penyidik sudah punya keyakinan yang kuat bahwa ia bersalah atau kuat diduga bersalah, apalagi sampai ditahan. Tinggal pemberkasan saja.Rikwanto "Neil dan Ferdi tidak pernah diberi tahu soal bukti yang dimaksud," kata Tim Carr, kepada sekolah JIS. "Padahal hal itu merupakan persyaratan dalam hukum di Indonesia. Ini adalah masalah hak asasi manusia dan kami menghendaki Indonesia mengikuti norma-norma mereka. Kami ingin tahu bukti-bukti yang telah ditemukan sehingga kami bisa merespons," kata Carr. Kasus ini juga mendapat kecaman dari kalangan diplomat. JIS memang didirikan oleh tiga kedutaan asing di Jakarta, yaitu Amerika Serikat, Australia, dan Inggris. Dalam pernyataan tertulis kepada BBC, Kementerian Luar Negeri Inggris, menyatakan, "Kami yakin bahwa JIS dan guru-guru sekolah tersebut kooperatif dengan polisi. Kami terkejut dengan perpanjangan penahanan staf pengajar JIS karena hukum Indonesia mengenal asas praduga tak bersalah." Sementara itu bagi keluarga Neil dan Ferdi kasus ini dirasakan makin berat. "Saya mencemaskan keadaan suami saya. Indonesia adalah negara demokrasi. Saya ingin melihat hukum ditegakkan dengan sebaik-baiknya," kata Tracy, istri Neil Bantleman. "Setiap malam saya berdoa bersama dua anak saya," kata Sisca, istri Ferdi, sambil menahan tangis. 9
  • 10. "Kami berdoa supaya ayah mereka kembali. Kami berdoa semoga Tuhan mengabulkan doa-doa kami. Hanya kepada Tuhan kami menggantungkan harapan," katanya. C. Undang-Undang Tentang Perlindungan Anak Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia menjamin kesejahteraan tiap warga negaranya, termasuk perlindungan terhadap hak anak yang merupakan hak asasi manusia. Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi sebagaimana diamanatkan dalam Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Hal tersebut perlu dilakukan untuk mengantisipasi anak (korban kejahatan) dikemudian hari tidak menjadi pelaku kejahatan yang sama. Karena berdasarkan fakta yang terungkap pada saat pelaku kejahatan terhadap anak (terutama pelaku kejahatan seksual) diperiksa di persidangan, pada kenyataannya ada beberapa pelaku yang mengaku bahwa pernah mengalami tindakan pelecehan seksual ketika pelaku masih berusia anak. Anak sebagai tunas, potensi, dan generasi muda penerus cita-cita perjuangan bangsa memiliki peran strategis, ciri, dan sifat khusus sehingga wajib dilindungi dari segala bentuk perlakuan tindak manusiawi yang mengakibatkan terjadinya pelanggaran hak asasi manusia. Oleh karena itu, dalam rangka meningkatkan perlindungan terhadap anak perlu dilakukan penyesuaian terhadap beberapa ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak terdapat beberapa istilah yang perlu diketahui yakni yang dimaksud dengan: Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan. Pe
  • We Need Your Support
    Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

    Thanks to everyone for your continued support.

    No, Thanks