BAB II PROFIL DAN RIWAYAT HIDUP PRAMOEDYA ANANTA TOER. murid ayahnya di sekolah dasar pemerintah Hindia Belanda HIS atau Holandse

Please download to get full document.

View again

of 33
6 views
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.

Download

Document Related
Document Description
BAB II PROFIL DAN RIWAYAT HIDUP PRAMOEDYA ANANTA TOER 2.1. Masa Kecil dan Remaja Blora tahun 1925 Pram biasanya dia disapa memiliki nama lengkap Pramoedya Ananta Toer. Dia lahir di Blora, 6 Februari
Document Share
Document Transcript
BAB II PROFIL DAN RIWAYAT HIDUP PRAMOEDYA ANANTA TOER 2.1. Masa Kecil dan Remaja Blora tahun 1925 Pram biasanya dia disapa memiliki nama lengkap Pramoedya Ananta Toer. Dia lahir di Blora, 6 Februari 1925 sebagai putra sulung dari pasangan guru dan putri tengah seorang petinggi keagamaan di Rembang. Ibunya Pram adalah murid ayahnya di sekolah dasar pemerintah Hindia Belanda HIS atau Holandse Indische School. Pada saat mereka menikah, ia berusia 18 tahun dan suaminya 32 tahun. Setelah pernikahan tersebut sang suami meninggalkan pekerjaannya untuk mengajar di sekolah swasta nasionalis Boedi Oetomo di Blora. Gajinya turun sangat drastis dari 200 gulden menjadi 18 gulden dengan menjadi kepala sekolah di institusi pendidikan pribumi. Pram adalah anak sulung dari delapan bersaudara. Pram mempunyai tujuh adik empat laki-laki dan tiga perempuan. Ayahnya bernama Mastoer yang kemudian akrab disapa Toer, ddan ibunya bernama Siti Saidah. Ayah Pram merupakan keturunan priyayi Jawa yang berasal dari Kediri Jawa Timur. Sedang ibunya Saidah berasal dari keluarga santri, di Rembang Jawa Tengah. Ayah Saidah adalah seorang penghulu. Sejak kecil Saidah dididik dalam kultur santri 45 46 tradisional pesisiran yang sangat kuat. Namun meski begitu Saidah juga mendapat pendidikan barat. Kultur ibu Pram yang santri sangat berbeda dengan kultur ayahnya. Mastoer bercorak kejawen dan dalam beberapa hal percaya pada kepercayaan pagan. Bila dilihat maka Pram dari geneologisnya merupakan percampuran antara kultur sanatri dan kejawen. Perbedaan ini bukan hanya dalam keyakinan, melainkan juga dalam ranah sosial dan budaya. Dimana nenek dan kakek Toer adalah keluarga besar dengan konsep monogam, sedangkan dari ibu adalah keluarga dengan pendekatan budaya pesisir poligami. Tetapi keluarga itu tetap menjadi keluarga besar dengan seabrek anak. Mastoer memiliki sifat yang keras sedang Saidah adalah perempuan halus penuh kasih sayang dan tegar. Setelah Mastoer beralih menjadi guru pribumi maka kondisi keuangan keluarga pun menjadi kacau. Kondisi yang kacau ini semakin menjadi ketika pemerintah kolonial mengeluarkan larangan bagi sekolah liar. Sekolah liar disini adalah sekolah yang didirikan oleh warga pribumi. Akibat peraturan ini maka banyak siswa yang keluar dari sekolah Mastoer. Undang-undang tersebut berdampak buruk pada sekolah pribumi dan juga keluarga Mastoer. Hal tersebut merusak tatanan keluarga dan hubungan antar anggota keluarga Mastoer. Dalam kondisi yang terpuruk ibu Pram tetap sabar dan tabah. Karena kondisi keuangan yang hancur, maka Saidah menjalani berbagai pekerjaan demi memenuhi kebutuhan keluarga. 47 Berbagai pekerjaan dijalani Saidah untuk membantu suaminya. Berjualan nasi dan beras, kayu bakar, dan menggembala lembu serta sejenisnya. Karena terlalu bekerja keras maka kesehatan tubuh Saidah pun merosot. Beliau pun terjangkit batuk kering dan kekurangan gizi. Keteguhan serta pengorbanan ibunya membuat Pram semakin kagum. Selama diasuh ibunya, Pram dididik agar tidak malu bekerja dan tidak terpengaruh arus budaya ningrat atau priyayi. Arus masyarakat seperti ini sangat dihindari oleh ibunya Pram, karena seseorang yang menjadi priyayi akan cenderung dekat dengan Belanda. Hal itulah yang menginspirasi Pram hinga menjadikan ibunya sebagai guru yang menumbuhkan semangat patriotik didalam jiwanya. Kekaguman Pram terhadap ibunya terpancar dalam berbagai karya-karyanya. Penting untuk diketahui bahwa Pram lahir secara prematur. Kondisi kelahiran yang terlalu cepat ini menjadikan fisik Pram lemah. Kelemahan Pram semenjak kecil ini tidak hanya secara fisik dalam pandangan ayahnya Pram juga lemah secara intelektual. Anggapan ayahnya semakin kuat ketika sedang menempuh pendidikan di SD Budi Oetomo dimana Mastoer menjadi kepala sekolah, Pram sempat tidak naik kelas tiga kali berturut-turut. Hal ini kemudian menjadikan Mastoer semakin pesimis dengan kemampuan akademis Pram. Ini sangatlah berbeda dengan adiknya yang bernama Prawito. Karena Prawito lahir dalam kondisi yang lebih menguntungkan. Pertama karena ayahnya saat itu masih berkecukupan dalam hal ekonomi. Kedua ibunya saat melahirkan Prawito sudah cukup umur untuk menjadi ibu. Berbeda saat akan melahirkan 48 Pram karena masih terlalu muda atau dapat dikatakan bocah untuk menjadi seorang ibu. Ketiga, Prawito lahir dalam umur kandungan yang cukup tidak seperti Pram yang prematur. Dapat kita ketahui bahwa nama asli Pram adalah Pramoedya Ananta Mastoer. Karena nama keluarga Mastoer (ayahnya) dirasa terlalu aristokrat maka ia menghilangkan awalan jawa Mas dan menggunakan Toer saja sebagai nama keluarga. Menurut penuturan Oemi Saidah (ibunda Pram) nama Pramoedya berasal dari kata pra yang berarti terutama atau yang paling pertama dan moedya yang berarti perang atau peperangan. Dan ternyata doa orang yang telah memberi nama itu menjadi kenyataan karena Pram menjadi orang pertama yang melawan bangsanya sendiri yaitu bangsa Jawa. Masih menurut buku Mastoer Bapak Kita, dalam sebuah wawancara dengan sang empunya nama, menurutnya nama Pramoedya itu nama baru buat orang Jawa. Nama anak-anak lelaki dari keluarga Toer diberikan oleh Mastoer sedang anak-anak perempuan keluarga Toer diberikan oleh Oemi Saidah yang bernada Arab. Itu sesuai dengan latar belakang masing-masing. Suku kedua dari nama Pram adalah Ananta yang menurut penuturan Soesilo Toer (adik Pram) bisa bermakna anaknya. Sementara menurut ensiklopedi Winkler Prins Ananta adalah nama ular sebagaimana mitos Hindu. Entah kebetulan atau takdir Pram adalah salah satu pengagum Antasena yang merupakan anak dari perkawinan antara Antaboga dan ular. 49 Sementara suku ketiga adalah Toer yang menurut Oemi Saidah merupakan nama sebuah gunung, kependekan dari Tursina. Suku kata itu dipakai oleh semua Toer bersaudara dan dijadikan nama keluarga. Selain itu terdapat fakta dimana mungkin belum diketahui oleh khalayak ramai bahwa mengetahui Pram bukanlah anak pertama melainkan anak kedua. Karena sebelum Pram lahir sang ibu Oemi Saidah, miskram alias keguguran karena masih sangat muda dan belum kuat. Janin yang gagal hidup itu sempat diberi nama Ahmad. Ketika Pramoedya masih dalam kandungan sang ibu, Oemi Saidah pernah bermimpi bertemu seorang kakek yang memberikan pisau belati. Apabila disangkutpautkan mungkin pisau belati yang dimaksud adalah lambang senjata yang digunakan Pramoedya Ananta Toer dalam melawan penindasan dan ketidakadilan yang terjadi serta membela kaum lemah. Dan pernah diramalkan oleh seseorang pula bahwa Pram kelak akan menjadi bunga. Sebagian mengagumi dan sebagian membenci Pendidikan Pram menamatkan pendidikan sekolah dasar di Institut Boedi Oetomo di Blora. Kemudian ia melanjutkan pendidikan ke Sekolah Teknik Radio Surabaya (Radio Volkschool Surabaya) selama satu setengah tahun. Serta sekolah di Jakarta saat dirinya hijrah ke ibu kota untuk mencari pekerjaan. Untuk dapat berada dalam proses pembelajaran ini Pram tidak menjalani secara gampang. Banyak rintangan yang harus dilaluinya. 50 Rintangan yang harus dijalani Pram pun tidak mudah karena datang dari ayahnya sendiri yang membuat dirinya merasa minder. Dapat kita ketahui setelah Pram gagal untuk naik kelas hingga tiga kali berturut-turut maka Pram dipaksa untuk keluar dan berhenti belajar di sekolah oleh ayahnya sendiri. Karena itu selama satu tahun penuh Pram meninggalkan bangku sekolah dan belajar di rumah. Selama menjalani proses belajar dirumah, Pram diajari oleh ayahnya dengan metode empirik. Ketika memberi pelajaran pada anaknya Mastoer menunjukan hal-hal konkret yangkemudian dikorelasikan dengan mata pelajaran yang dikerjakan. Ayahnya memberi tambahan pengetahuan tentang bumi, tumbuhan, binatang, sejarah, kisah-kisah rakyat bahkan masyarakat tertindas tak luput juga isu-isu nasionalisme dan kerakusan imperialisme Belanda. Selain itu Pram mendapat sentuhan jiwa seni pula. Hal ini dilakukan oleh ayahnya dengan cara mengajak Pram mendengarkan lantunan musik gamelan. Ketika menikmati alunan musik gamelan tersebut Mastoer memberikan penjelasan tentang seluk beluk keindahan dan nilai estetika suara Jawa dari Gamelan itu. Selain itu masih banyak mata pelajaran yang diajarkan oleh ayahnya. Namun ketika Pram dalam sesi pembelajaran privat tersebut Mastoer sering bersikap kasar dan marah-marah. Pram sering mendapat bentakan oleh ayahnya. Maka dari itu Pram selalu menangis ketika mendapat pelajaran privat dari ayahnya. 51 Setelah diajar secara privat oleh ayahnya Pram kembali ke bangku sekolah dasar yang telah ia tinggalkan. Pelajaran privat yang diberikan ayahnya ternyata tidak sia-sia. Pram dapat dengan mudah mencerna pelajaran yang diajarkan oleh gurunya dikelas. Hingga akhirnya Pram dapat menamatkan pendidikan di bangku sekolah dasar selama sepuluh tahun. Hal itu jelas tidak memuaskan mengingat secara normal pendidikan sekolah dasar dapat ditempuh selama enam atau tujuh tahun. Tak hanya itu rapor Pram pun dipenuhi warna merah membara. Setelah kelulusan tersebut Pram ingin melanjutkan pendidikan ke tingkat selanjutnya. Ia pun meminta izin dari sang ayah untuk melanjutkan ke Institut Boedi Oetomo Madiun. Sayang sang ayah memberi respon negatif. Sang ayah menyuruh Pram untuk kembali lagi saja ke bangku sekolah dasar. Kala itu ayahnya juga meghardiknya dan berkata anak bodoh! kembali kamu ke Sekolah Dasar! Begitulah yang diucapkan oleh ayahnya sebagaimana Pram bercerita dalam film dokumenter yang dibuat oleh Lontar Foundation. Perasaan kacau balau karena diintimidasi oleh ayahnya sendiri menjadikan perasaan inferioritas kompleks dalam diri Pram. Ia menjadi tidak percaya diri karena dikatai bodoh oleh ayahnya. Setelah itu Pram pun menyetujui perintah ayahnya dan kembali ke bangku sekolah dasar. Saat dirinya tiba di sekolah dasar dirinya dihampiri oleh Meneer Amir yang tak lain mantan gurunya. Beliau pun bertanya Pram mengapa kamu ingin lagi di sini? Bukankah engkau sudah lulus? Tempatmu bukan di sini lagi. Beliau pun menyuruh Pram pulang dan merasa keahliannya mengajar disekolah sepertinya disepelekan oleh ayah Pram. 52 Dalam perjalanan pulang Pram merasa bingung. Dengan linglung dan limbung ia menyusuri jalan pulang sambil melewati kuburan dimana didekatnya terdapat pohon jarak. Ia pun menaruh kertas yang dibawanya diatas tanah dan memegangi pohon jarak tersebut sembari menangis dan berteriak sekeraskerasnya. Seluruh kegalauan yang membelenggunya ia muntahkan dalam teriakannya. Pram merasa bahwa dirinya berada dalam kesendirian. Ia merasa dalam keadaan seperti ini tak ada seorang pun datang untuk sekedar menghibur atau menenangkannya. Pram pun tetap menuruti kemauan sang ayah. Bukannya melanjutkan ke jenjang selanjutnya ia malah kembali ke bangku sekolah dasar. Dia pun berhasil menamatkan studinya untuk kedua kalinya. Pram pun menghabiskan belasan tahun duduk di bangku sekolah dasar. Sembari menyelesaikan studinya Pram membantu ibunya berjualan nasi bungkus untuk mendapatkan uang. Setelah lulus untuk kedua kalinya, Pram pada tahun 1940 melanjutkan sekolahnya di sekolah radio (Radio Vakschool), Surabaya. Pram memiliki bakat dibidang teknik elektro. Bakat ini sudah menjadi kesenangannya sejak duduk di bangku sekolah dasar. Maka tak heran jika ia memilih untuk melanjutkan dalam bidang tersebut. Pram pun menamatkan sekolahnya pada tahun Meski secara legal dinyatakan lulus namun Pram tidak menerima ijazah dikarenakan harus dikirim ke Bandung untuk disahkan secara formal. Namun ternyata ijazah tersebut tidak dikembalikan ke dirinya. 53 Memasuki tahun kepemimpinan Belanda mulai goyah dan sejurus kemudian Jepang mulai menaklukan Asia di Perang Dunia II. Hingga pada 1942 Jepang berhasil merebut Indonesia dari tangan Belanda. Kedatangan Jepang yang menggantikan Belanda di Nusantara tak ada beda. Jepang juga mengeruk semua kekayaan alam kita. Jepang membutuhkan pasokan logistik guna melawan sekutu. Bukan hanya beras yang diminta tetapi pemuda dan orang Indonesia juga dijadikan romusha. 37 Anak-anak dikirim ke luar jawa bahkan ada yang direkrut untuk menjadi sukarelawan perang melawan sekutu. Semua itu terekam jelas oleh Pram dan pada akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya, Blora. Padahal pada saat itu namanya sudah berada dalam daftar untuk ditempatkan pada angkatan militer Kepergian Ibunda Setelah kembali ke kampung halamannya, Pram membantu ibunya untuk berjualan nasi lagi. Pram semakin kagum dengan ibunya yang terus bekerja keras membangun ekonomi keluarga. Ayahnya sebagai seorang nasionalis yang anti penjajah sangat tertekan dengan kondisi keuangan keluarga yang kritis. Walaupun Mastoer bekerja sebagai guru dan kepala sekolah ia juga seorang nasionalis yang berada dibawah naungan organisasi PNI (Partai Nasional Indonesia) 38. Dalam organisasi ini ideologi yang dianut Mastoer adalah nasionalis kiri. Sebagai 37 Romusha adalah panggilan bagi orang-orang Indonesia yang dipekerjakan secara paksa pada masa penjajahan Jepang di Indonesia dari tahun 1942 hingga Kebanyakan romusha adalah petani. 38 Partai Nasional Indonesia atau PNI adalah partai politik tertua di Indonesia. Partai ini didirikan pada 4 Juli 1927 dengan nama Perserikatan Nasional Indonesia dengan ketuanya Dr. Tjipto Mangunkusumo. Ideologi dari partai ini adalah nasionalisme. 54 nasionalis kiri maka Mastoer tidak mau bekerja dengan penjajah, baik di masa Jepang ataupun Belanda. Dapat diketahui PNI di masa Belanda menjadi partai yang ditekan keras oleh rezim imperialis. Situasi semacam ini membuat ekonominya tertekan. Karena tekanan yang terus menerus membuat Mastoer melampiaskannya kepada keluarga termasuk anak-anak dengan kemarahan yang tidak jelas sebabnya. Untuk menghilangkan tekanan tersebut Mastoer pun menghabiskan waktu dan uangnya dimeja judi. Hobi berjudi inilah yang akhirnya menjadi pemicu keributan yang tak berkesudahan dengan istrinya. Ketika percecokan tak bisa dihindari Pram selalu tampil untuk membela sang ibu. Karena baginya ibu merupakan sosok yang sangat dihormati dan dijunjung tinggi. Karena sikap Mastoer yang seperti itu membuat ekonomi bertambah kritis. Maka untuk mencukupi kebutuhan keluarga Saidah harus banting tulang dengan cara berjualan nasi, beras, dan hal-hal lain untuk mendapat uang. Pram sering kali membantu usaha ibunya. Hingga selesai studinya di Surabaya Pram tetap membantu sang ibu berjualan. Hingga suatu hari sang ibu jatuh sakit. Sakit yang diderita ternyata cukup parah. Ketika istrinya sakit Mastoer tidak berada dirumah karena kesibukannya diluar. Mengingat ibunya jatuh sakit maka beban kebutuhan keluarga berada di pundak Pram. Sehingga mau tidak mau Pram harus mencari uang untuk keluarganya. Dimasa-masa itulah Pram harus menanggung sendiri kebutuhan keluarga. Untuk memenuhi itu Pram berjualan tenun, rokok, dan tembakau. Hal ini harus 55 dilaluinya dengan keras. Pram setiap harinya harus mengayuh sepeda sepanjang 40 km dari Blora ke Cepu. Setelah selesai kerja Pram pun kembali kerumah untuk menjaga dan merawat ibunya yang sakit parah. Pengabdian Pram terhadap ibunya sungguh besar. Namun sayang setelah mengidap TBC lama pada 3 Juni 1942 Saidah menghembuskan nafas terakhir. Perempuan yang sangat dikaguminya pergi untuk selamanya. Sudah selama tiga hari ibu tidak makan dan ada adik yang bernama Soesanti. Karena kondisi waktu itu yang serba sulit maka tidak ada makanan dan asi ibu tidak keluar. Akhirnya ibu makan bubur yang sudah tiga hari terhidang di ruangan terbuka. Selang beberapa jam adik tidak ada dan disusul oleh ibu. 39 Kepergian sang ibu harus diurus sendiri oleh Pram. Saat kehilangan ibu Pram berusia 17 tahun. Ia bersama adik-adiknya harus mengurus segala keperluan pemakaman sendiri. Ayahnya tidak terlibat sama sekali dalam proses pemakaman. Entah dimana keberadaan sang ayah kala itu. Pram sungguh merasa sendiri dan sangat kehilangan Hijrah ke Jakarta Selepas ditinggal pergi untuk selamanya oleh sang ibu Pram harus menghidupi keluarganya. Dalam keadaan sedih ia menerima nasehat ayahnya, Pram dan adiknya yang bernama Waloejadi berangkat ke Jakarta. Hal ini dilakukan karena ayahnya sudah tidak lagi produktif dan adik-adiknya masih butuh untuk melanjutkan pendidikan. 39 Wawancara dengan Soesilo Toer adik Pramoedya Ananta Toer. (Sabtu, 19 Agustus 2017) 56 Sesampainya di Jakarta Pram tinggal dirumah pamannya bernama Moedigdo. Pamannya inilah yang mendaftarkan Pram ke Sekolah Taman Siswa, khusus Taman Dewasa yang diakui oleh Jepang. Di Jakarta ini Pram tidak hanya bekerja tetapi juga belajar. Pada tahun 1944 Pram bekerja di kantor milik Jepang Domei. Disini Pram menjadi juru ketik di kantor berita. Hal ini adalah suatu keterpaksaan, sebab Pram tak ingin bekerja di perusahaan Jepang. Bekerja dan menjadi anak buah Jepang baginya seperti budaknya. Pram jelas tersiksa bekerjasama dengan kaum penjajah. Namun bagaimana lagi adik-adiknya di kampung membutuhkan biaya. Setiap menerima gaji Pram kemudian mengirimkan uang gajinya untuk adik-adiknya di Blora. Sembari bekerja Pram pun belajar di Taman Siswa. Selama belajar di lembaga ini Pram mempelajari bahasa Indonesia. Ada kebanggan tersendiri bagi Pram belajar bahasa Indonesia. Baginya bahasa Indonesia seharusnya tidak diposisikan sebagai pelajaran formal, melainkan sebagai medium untuk menumbuhkan semangat nasionalisme anak-anak Indonesia. Sayang pendidikannya tidak sampai lulus. Pasalnya ketika Pram naik kelas tiga pendidikan Taman Dewasa dibubarkan oleh Jepang. Meski dibubarkan semangat Pram untuk belajar tidaklah pudar. Baginya belajar tidak hanya di lembaga pendidikan formal semcam sekolah tetapi bisa juga di luar institusi melalui jalan autodidak. Dengan autodidak ini Pram bisa mengakses ilmu pengetahuan sebanyak-banyaknya. Salah satu obyek studi yang menjadi perhatiannya adalah sastra yang dia peroleh melalui buku yang disewa ataupun dibelinya. 57 Karena dianggap mempunyai dedikasi dan potensi Jepang pun mengangkat Pram sebagai karyawan dan diberi kesempatan untuk melanjutkan studinya. Namun Pram tidak mau melanjutkan studi dan dia lebih memilih untuk melanjutkan studi Stenografi Tjou Sangiin, yaitu lembaga pendidikan Jepang. Dilembaga inilah Pram berkenalan dengan tokoh-tokoh politik. Di sekolah ini Pram mampu menempuh hingga lulus pada Mei Pram ternyata orang yang rakus ilmu. Setelah lulus ia melanjutkan studi ke Sekolah Tinggi Islam Dondangdia. Disini ia mendapat disiplin ilmu humaniora seperti filsafat, psikologi, dan sosiologi. Sembari belajar Pram masih tetap menjadi juru ketik di kantor berita. Namun kariernya tidak mengalami kemajuan. Ini dikarena Pram tidak memiliki ijazah sekolah menengah. Akhirnya ia meninggalkan tugasnya tanpa seizin Jepang. Karena hal ini Jepang menganggapnya berdosa dan dosa ini harus ditebus oleh nyawa. Untuk menghindari kejaran Jepang Pram pun melarikan diri ke Blora kemudian ke Kediri tepatnya di Desa Ngadiluwih. Saat pelarian ini ia dikagetkan oleh berita proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 yang dilakukan oleh Soekarno dan Hatta. Setelah mendengar berita itu Pram bertolak ke kampung halamannya untuk bertemu adik-adiknya. Setelah itu Pram kembali ke Jakarta untk bergabung dengan PETA (Pembela Tanah Air). Pada Oktober 1945, Pram diangkat menjadi Prajurit inti Divisi Siliwangi. Setelah sebelumnya bergabung dengan BKR (Badan Keamanan Rakyat) dan ditempatkan di Cikampek pada kesatuan Banteng Taruna. Dalam waktu cepat jabatannya meningkat jadi sersan mayor, lalu berhenti dengan resmi dari tentara 58 pada 1 Januari Pada saat itu Pram tinggal di Cikampek dan menunggu gaji tujuh tempo yang belum dibayar. Gaji tersebut tidak terbayar karena dikorupsi. Hingga suatu kali Pram pernah naik kereta api menuju Jakarta tanpa karcis, tidak memiliki uang, dan kelaparan. Setelah itu pada bulan yang sama Pram diterima bekerja di The Voice of Free Indonesia sebagai redaktur bagi penerbit Indonesia. Kemudian Pram ditangkap oleh NICA (Nederlandsch Indie Civil Administratie) 40 karena terlibat dalam gerakan bawah tanah. Pada 21 Juli 1947 Belanda melakukan Agresi Militer I, pada saat itu Pram diperintah ata
Search Related
Similar documents
View more...
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks