Eksploitasi Panas Bumi Ciremai

Please download to get full document.

View again

of 4
5 views
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.

Download

Document Related
Document Description
hhh
Document Share
Document Transcript
  Eksploitasi Panas Bumi Ciremai, Dibatasi sampai 110 Mega Watt KUNINGAN, (PRLM).- Pemanfaatan hasil tambang untuk Pembangkit Listrik Tenaga Panas (PLTP) dengan mengeksploitasi panas bumi di kawasan Gunung Ciremai Kabupaten Kuningan, untuk sementara bakal dibatasi sebesar 110 Mega Watt (MW) dari potensi seluruhnya sebesar 235 MW. “Dalam waktu dekat pemanfaatan energi Gunung Ciremai bakal segera terwujud, karena saat ini sudah dilakukan tender tahap kedua dan diharapkan pada April mendatang, sudah selesai. Selanjutnya, dilakukan sosialisasi kepada masyarakat sekitar sebelum dilakukan pengeboran,” tutur Kepala Dinas Sumber Daya Mineral dan Pertambangan (SDAP) Kab.Kuningan, Kukuh T Malik, didampingi Kepala Bidang Pertambangan dan Energi, Deni Nurcahya, Rabu (7/3). Menurut Kukuh T Malik, berdasarkan hasil survey akhir melalui penyelidikan geofisika, analisis geokimia dan magneto teluric (MT) yang dilakukan Dinas ESDM (Energi dan Sumber Daya Mineral) Jabar, beberapa waktu lalu, menunjukkan Gunung Ciremai memiliki panas bumi yang sangat potensial untuk dieksplorasi. Terdapat di tiga titik yakni di Sangkanhurip dengan prospek geotermal berada pada aktivitas vulkanik aktif dan instrusi andesit pada batuan sedimen tersier, potensinya seluas 10 km  persegi dengan temperatur reservoir sekitar 210 derajat celcius dan bisa dimanfaatkan sebesar 25 MW. Potensi prospek di Pejambon temperatur reservoir sekitar 210 derajat celcius dengan luas sekitar 20 km persegi dan bisa dimanfaatkan tenaga listriknya sebesar 135 MW. Selain itu,  potensi terduga di Desa Ciniru Kec.Jalaksana sebesar 75 MW.  “Hal yang dinilai menguntungkan, adanya ketersediaan infrastruktur jaringan Gardu Induk PLN Sutet 500 KV Jawa Bali yang melintas dekat Sangkanhurip dan Gardu Induk di Mandirancan dengan jarak kurang dari 7 km dari lokasi PLTP,” ujarnya.  Dijelaskan Deni Nurcahya, ada dua perusahaan besar yang mengikuti tender ini yakni PT. Jasa Daya Chevron dan Hitay (Turki), yang diselenggarakan langsung Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Jawa Barat. Energi yang bakal dimanfaatkan ditentukan 2X55 MW atau 110 MW, sedangkan proses tendernya sudah masuk ke tahap kedua. Bila proses tender selesai, maka pihak perusahaan wajib melakukan sosialisasi kepada masyarakat khususnya kepada warga yang berada di kak  i Gunung Ciremai. “Mungkin,  pelaksanaan pengeborannya baru bisa dimulai pada tahun 2015 mendatang,” tegas Deni. (A -164/A-108)***  Tolak Eksploitasi Panas Bumi di Gunung Lawu Magetan (kpa.or.id)  –   Pada bulan Maret 2016, PT. Pertamina Geothermal Energy  berhasil memenangkan lelang pengelolaan wilayah kerja panas bumi (WKP) Gunung Lawu senilai 165 mega watt (MW). WKP Gunung Lawu ditargetkan beroperasi pada 2022. Sesuai dengan pengumuman lelang, WKP Gunung Lawu memiliki luas 60.030 hektar. Cadangan terduga uap panas bumi di wilayah ini tercatat sebesar 195 MW. Luasan lahan yang akan dijadikan WKP mencakup kawasan konservasi Gunung Lawu. Lahan tersebut merupakan lahan vital bagi masyarakat Gunung Lawu. Karena dari lahan inilah sumber kehidupan dan penghidupan masyarakat berasal. Dalam hal ini, selain untuk melindungi kekayaan dan keseimbangan ekosistem esensial berkelanjutan, fungsi pencegah kerusakan alami (erosi, hutan gundul, dll) serta banyaknya jumlah sumber mata air yang menjadi penopang kehidupan masyarakat dan lahan pertanian menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan. Selain menjadi pusat kegiatan spiritual di Jawa, Gunung Lawu merupakan salah satu gunung yang menyimpan kekayaan situs sejarah dan kekayaan kosmologis. Potensi energi panas  bumi yang besar memang patut disyukuri, namun kenyataannya pembangunan dalam rangka eksplorasi, eksploitasi dan pemanfaatan energi panas bumi dapat mengganggu aspek keseimbangan ekosistem, aspek kosmologi, aspek budaya, aspek sejarak, aspek ekonomi dan sosial masyarakat di sekitar kawasan tersebut. Kasus dampak pembangunan PLTP Mataloko, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur dapat dijadikan sebagai contoh. PLTP Mataloko yang dibangun sejak tahun 1997 telah mengakibatkan berbagai dampak seperti berkurangnya sumber mata air, kerusakan lahan   pertanian, pendapatan petani menurun karena turunnya hasil panen, sampai meningkatnya  penyakit ISPA dan kulit yang dialami oleh masyarakat. Atas dasar itulah, masyarakat di sekitar Gunung Lawu yang tergabung dalam Gerakan Lawu Raya (GELAR) bersama KPA Jawa Tengah dan KPA Jawa Timur menolak secara tegas eksploitasi panas bumi di Gunung Lawu oleh PT. Pertamina Geothermal Energy. KPA Jawa Tengah, KPA Jawa Timur, dan GELAR menuntut kepada pemerintah untuk tetap menjaga fungsi konservasi Gunung Lawu, membatalkan proyek PT. Pertamina Geothermal Energy di Gunung Lawu dan mencabut segala perizinan yang berkaitan dengan eksploitasi Gunung Lawu.
Previous Slide

RAB Villa

Next Slide

2

We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks