PENINGKATKAN HASIL BELAJAR PEMBELAJARAN TEMATIK MELALUI MEDIA GAMBAR TEMA KEGEMARANKU DI KELAS II SD NEGERI MARGOAGUNG SLEMAN

Please download to get full document.

View again

of 14
4 views
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.

Download

Document Related
Document Description
PENINGKATKAN HASIL BELAJAR PEMBELAJARAN TEMATIK MELALUI MEDIA GAMBAR TEMA KEGEMARANKU DI KELAS II SD NEGERI MARGOAGUNG SLEMAN Laelatul Badriah & Isna Ma rifah PGMI STIA Alma Ata Yogyakarta
Document Share
Document Transcript
PENINGKATKAN HASIL BELAJAR PEMBELAJARAN TEMATIK MELALUI MEDIA GAMBAR TEMA KEGEMARANKU DI KELAS II SD NEGERI MARGOAGUNG SLEMAN Laelatul Badriah & Isna Ma rifah PGMI STIA Alma Ata Yogyakarta ABSTRACT This study was to determine the students achievements and the obstacles encountered in using media images on thematic learning. This research is a class act, a model Hopkins with two cycles. This study is successful if 60% of the student learning experience that is by KKM completeness 65 on competence-related. The results showed that the media image of thematic learning can be used to improve student learning outcomes. Evidently, when the application of media images on thematic learning students are very enthusiastic with the media image, so it can be use to improve student learning outcomes. In the first cycle in pretetst completeness percentage is 56.67% (17 students) and posttest by 80% (24 students), and the second cycle completeness percentage of students achieving 90% to 27 students who completed the KKM. Based on the final results of this study show that an increase in student learning outcomes in thematic learning. That is, the thematic learning can be more interesting if the instructional use of media images. Keywords: thematic learning, media images *** Penelitian ini untuk mengetahui hasil belajar siswa dan kendala-kendala yang dihadapi dalam menggunakan media gambar pada pembelajaran tematik. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas, model Hopkins dengan dua siklus. Penelitian ini dikatakan berhasil jika 60% hasil belajar siswa mengalami ketuntasan yaitu dengan KKM 65 pada kompentensi yang terkait. Hasil penelitian menunjukan bahwa pembelajaran tematik dengan media gambar dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Terbukti, saat penerapan media gambar pada pembelajaran tematik siswa sangat antusias sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Pada siklus I prosentase ketuntasan pada pretetst ialah 56,67% (17 siswa) dan posttest sebesar 80% (24 siswa), lalu pada siklus II prosentase ketuntasan siswa mencapai 90% dengan 27 siswa yang tuntas KKM. Berdasarkan hasil akhir dari penelitian ini menunjukan bahwa terjadi peningkatan hasil belajar siswa pada pembelajaran tematik. Artinya, pembelajaran tematik dapat lebih menarik jika dalam pembelajaran digunakannya media gambar. AL-BIDAYAH: Jurnal Pendidikan Dasar Islam Volume 7 Nomor 1, Juni 2015; ISSN : Laelatul Badriah & Isna Ma rifah Kata kunci: pembelajaran tematik, media gambar PENDAHULUAN Pendidikan adalah suatu proses dalam rangka mempengaruhi peserta didik supaya mampu menyesuaikan diri sebaik mungkin dengan lingkungannya. Pendidikan juga sebagai usaha sadar untuk menumbuhkembangkan potensi sumber daya manusia melalui kegiatan pengajaran. Menurut Permen Diknas No. 23 tahun 2006, tujuan pendidikan dasar ditingkat SD/MI adalah meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia serta keterampilan dasar untuk dapat mengikuti pendidikan lebih lanjut. 1 Hal ini juga sesuai dengan UU RI No 2 Tahun 1989 Bab I pasal 1 bahwa pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan atau latihan bagi peranannya dimasa yang akan datang. 2 Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional juga menyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. 3 Fungsi pendidikan itu adalah menyiapkan peserta didik, artinya bahwa setiap peserta didik pada hakikatnya belum 1 Departemen Pendidikan Nasional, UU RI No 20 Tentang Sistem pendidikan Nasional (Jakarta:Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jendral Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda, 2003), hlm 1 2 Oemar Hamalik, Kurikulum dan Pembelajaran (Jakarta:Bumi Aksara, 2011), hlm 2 3 Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan (Jakarta: Kencana Prenada Media, 2006), hlm 2 siap, tetapi perlu disiapkan dan sedang menyiapkan dirinya sendiri. Penyiapkan ini dikaitkan dengan kedudukan peserta didik sebagai calon warga negara yang baik, warga bangsa dan calon pembentuk keluarga baru serta mengemban tugas dan pekerjaan dikemudian hari. Dalam proses pengajaran, unsur proses belajar memegang peranan yang sangat penting. Belajar juga menjadi wajib bagi setiap muslim karena dengan ilmu kebutuhan jasmani dan rohani dapat terpenuhi. Belajar juga menjadi sesuatu yang sudah lazim dilakukan oleh manusia pada umumnya. Hal ini juga dikatakan dalam Al-Qur an Q.S Al Mujaadilah:11 yaitu sebagai berikut: ي ا ا ا ا لذ ين ا م ن ف اف س حوا ي ف س ح ال له وا م ن ي ر ف ع ال له ا لذ ين ا م ن ون د ر جات وال له ب م ا ت ع م ل سحوا ي امل جال س ف وا ا ذا ق يل ل ك م ت وا ان شز وا ف ل ك م و ا ذا ق يل ان شز ك م و ا لذ ين ا وت وا ال ع ل م خ ب ر (١١) 11. Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: «Berlapang-lapanglah dalam majlis», Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: «Berdirilah kamu», Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. 4 Proses belajar-mengajar di SD ataupun MI terutama di kelas rendah (kelas1-3) sering kali masih bersifat abstrak dan menyebabkan 4 Al-Quraan Dan Terjemahannya:Kitab Suci Al- Quran Depertemen Agama Republik Indonesia, (Surabaya:Mahkota,1989), hlm AL-BIDAYAH, Volume 7 Nomor 1, Juni 2015 Peningkatkan Hasil Belajar Pembelajaran Tematik sulit untuk dipahami dan dipelajari oleh para peserta didik. Kesulitan tersebut terutama disebabkan karena siswa SD/MI (usia 6-11 tahun) sedang memasuki perkembangan pada stadium operasional konkrit. Pada stadium ini anak sudah mampu memperhatikan dimensi lebih dari satu dan menghubungkan beberapa dimensi. Pada tahap ini anak berfikir didasarkan atas manipulasi fisik dari obyekobyek. Dengan kata lain penggunaan media (termasuk media gambar) dalam pembelajaran di SD/MI memang diperlukan, karena sesuai dengan tahap berfikir anak. Dengan menggunakan media/alat peraga tersebut anak akan lebih menghayati materi pelajaran secara nyata berdasarkan fakta yang jelas dan dapat dilihatnya. Sehingga anak lebih mudah memahami topik yang disajikan. 5 Pembelajaran tematik dimaknai sebagai pembelajaran yang dirancang berdasarkan tema-tema tertentu. Pembelajaran ini menuntut kreativitas guru dalam pembelajaran, akan tetapi guru selama ini biasanya mengajar hanya dengan metode ceramah, diskusi dan tanya jawab tanpa alat bantu atau media pembelajaran yang mendukung untuk pembelajaran tersebut, sehingga guru aktif dan siswa hanya sebagai pendengar pasif saja. Apabila guru dalam mengajar selalu monoton seperti itu maka siswa tentu saja akan merasa jenuh dan bosan sehingga siswa tidak memperhatikan penjelasan guru. Akibat dari kondisi tersebut akan mempengaruhi hasil belajar siswa dan tujuan pembelajaran menjadi kurang maksimal. Dan tanpa disadari, inilah 5 Sukayati dan Agus Suharjana, Modul Matematika SD Program Bermutu: Pemanfaatan Alat Peraga Matematika dalam Pembelajaran di SD (Yogyakarta: Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PPPPTK) Matematika, 2009), hlm 1 yang menyebabkan rendahnya kualitas dan hasil belajar siswa itu sendiri, sehingga tujuan pembelajaran belum tercapai, dengan demikian kriteria ketuntasan minimal yang ditetapkan di masing-masing sekolah juga sulit tercapai. Oleh sebab itu peranan dan fungsi guru sangat mempengaruhi dan menentukan hasil dari proses pembelajaran tersebut. Fenomena diatas bedasarkan pada pra penelitian di SDN Margoagung antara lain sebagai berikut: 6 Pendekatan pembelajaran yang digunakan tradisional/mekanistik. Pada saat proses pembelajaran berlangsung, siswa terkesan malas dan tidak tertarik dalam mengikuti pelajaran. Siswa cenderung melakukan aktifitas lain, seperti bercanda dengan teman sebangkunya dan berlari-lari dengan teman yang lain di dalam kelas. Guru kelas jarang menggunakan alat peraga/media. Guru dalam menyampaikan materi cenderung monoton, mencatat dan menerangkan (ceramah). Guru jarang menggunakan alat peraga/media, disamping tidak ada waktu untuk membuatnya guru juga jarang menggunakan alat peraga/media yang tersedia, hal ini dikarenakan alat peraga/media rusak dan tidak terawat dan hanya di simpan di lemari ruang guru. Kurang aktifnya siswa saat pembelajaran berlangsung, ditunjukkan siswa sangat bergantung kepada guru. Siswa juga cenderung pasif dan menunggu bantuan dari guru dalam mengerjakan latihan. Hal ini terlihat saat mengerjakan soal, apabila guru tidak menanyakan pekerjaannya maka siswa juga tidak melanjutkan mengerjakan soal-soal latihannya. 6 Bapak Rubiyanta, S.Pd, guru kelas II SDN Margoagung, wawancara tanggal 06 November 2013 pukul Volume 7 Nomor 1, Juni 2015, AL-BIDAYAH 19 Laelatul Badriah & Isna Ma rifah Fenomena diatas tentunya tidak diinginkan karena tujuan pendidikan di sekolah tidak akan tercapai terutama dalam pelajaran tematik. Berdasarkan hasil pra penelitian, maka perlu diadakannya perbaikan. Maka peneliti tertarik untuk melakukan perbaikan pada pembelajaran tematik agar siswa dapat memenuhi ketuntasan belajar. Diharapkan dengan media gambar ini dapat mendorong siswa lebih giat belajar sehingga mendapatkan hasil belajar sesuai yang diharapkan. Usaha perbaikan tersebut diwujudkan dalam bentuk Penelitian Tindakan Kelas (PTK). METODE PENELITIAN Penelitian ini dikategorikan pada Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research). Menurut T. Raka Joni dalam F.X Soedarso, penelitian tindakan kelas adalah suatu bentuk kajian yang bersifat reflektif oleh pelaku tindakan yang dilakukan untuk meningkatkan kemampuan rasional dari tindakan-tindakan yang dilakukannya itu serta untuk memperbaiki kondisi dimana praktek-praktek pembelajaran tersebut dilakukan. 7 Jenis penelitian tindakan kelas yang digunakan adalah Model Hopkins. Penelitian ini dilakukan dua siklus dengan melalui empat tahapan yaitu: perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi. Subjek penelitian tindakan kelas ini adalah seluruh siswa kelas II SDN Margoagung yang yang belokasi di Krapyak, Margoagung, Seyegan, Sleman, Yogyakarta Jenis penelitian tindakan kelas yang digunakan adalah Model Hopkins. Model ini terdiri dari 4 langkah, yaitu: (1) Perencanaan, yaitu menyusun perangkat pembelajaran, media serta lembar pengamatan, (2) Pelaksanaan atau tindakan adalah pelaksanaan yang 7 Soedarso, F.X., Aplikasi Penelitian Tindakan Kelas (Departemen Pendidikan Nasional : 2001), hlm 2 merupakan implementasi atau penerapan isi rancangan, yaitu mengenakan tindakan kelas. (3) Observasi yaitu suatu tahapan pengamatan yang dilakukan oleh pengamat atau kolaborator yaitu guru untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan pada tindakan tersebut. (4) Refleksi yaitu menganalisis hasil tindakan untuk membuat simpulan sementara dan mendiskusikan untuk perbaikan tindakan selanjutnya. Gambar. 1 Bagan Prosedur Penelitian Tindakan Kelas Model Hopkins 8 Instrumen penelitian adalah alat yang dapat digunakan untuk mengumpulkan data penelitian. Dalam PTK ini teknik peng umpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, catatan harian, tes dan doku mentasi. Instrumen pengumpulan data yang digunakan adalah: RPP, silabus, soal pretest dan posttest, pedoman wawancara, serta lembar observasi. Dalam penelitian ini validitas instrumen yang digunakan adalah validitas isi. Isi test harus sesuai dengan materi yang akan diukur dan diujikan. 9 Validitas isi 8 Wina Sanjaya, Penelitian Tindakan Kelas Jakarta:Kencana, 2011), hlm 54 9 Djemari Mardapi, Teknik Pensnan nstrment Tes an on Test (Yogyakarta: Mitra Cendekia, 2008) hlm AL-BIDAYAH, Volume 7 Nomor 1, Juni 2015 Peningkatkan Hasil Belajar Pembelajaran Tematik tes dilakukan dengan cara membandingkan isi instrument dengan materi yang diajarkan melalui kisi-kisi tes hasil belajar dan dengan menggunakan penilaian ahli. Analisis merupakan tahap akhir terhadap apa yang dilakukan selama berada di lapangan yang disertai dengan membuat laporan penelitian. 10 Analisis data PTK dilakukan dengan analisis kualitatif yaitu dengan mencari peningkatan hasil belajar siswa pada pretest dan posttest. Kemudian dalam menganalisis data hasil penelitian menggunakan Triangulasi. Teknik triangulasi merupakan suatu cara mendapatkan informasi yang akurat dengan menggunakan dengan berbagai metode agar informasi itu dapat dipercaya kebenarannya sehingga tidak salah mengambil keputusan. 11 Analisis triangulasi data ini digunakan untuk menganalisis data dari berbagai sumber baik dari hasil tes, wawancara, observasi, dan catatan lapangan. Agar setiap data dapat memberikan informasi yang jelas sehingga mudah dibaca dan dipahami maka data tersebut perlu disajikan dalam bentuk penyajian data seperti dalam bentuk tabel, diagram maupun grafik. Indikator keberhasilan penelitian ini apabila 60% siswa mengalami ketuntasan pada pembelajaran tematik khususnya mata pelajaran IPA dan Matematika pada tema kegemaran. Peningkatan hasil belajar siswa ini dilihat dari hasil tes siswa (nilai) setelah menggunakan media gambar dengan menggunakan kriteria ketuntasan minimal yang ditetapkan oleh sekolah yaitu sebesar Lexi J. Moleong, Metode Penelitian Kualitatif. hlm Ibid, hlm Rubiyanta, S.Pd, Guru kelas II SDN Margoagung, wawancara tanggal 06 November 2013 pukul HASIL PENELITIAN DAN PEM- BAHASAN Gambaran Umum Lokasi Penelitian Sekolah Dasar Negeri (SDN) Margoagung beralamat Krapyak, Margoagung, Seyegan, Sleman, Yogyakarta, Luas area SDN Margoagung ini ± 2400 m 2. Sejarah awal mula SDN Margoagung ini dimulai pada tahun 1928, dengan nama nama Sekolah Rakyat (SR). Pada mulanya bangunan yang dimiliki hanya 2 ruangan yang sekarang dipakai menjadi kelas V dan IV. Pada tahun 1965 diganti menjadi Sekolah Dasar Negeri (SDN) Margoagung. Dari tahun 2010 hingga sekarang SD Negeri Margoagung ini dipimpin oleh Bapak C. Rudito, S.Pd. Hasil Tindakan Siklus I Siklus I melalui empat tahap yaitu perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Tahap perencanaan ini merupakan waktu kegiatan persiapan yang dituangkan dalam perencanaan penelitian, antara lain menyusun perangkat pembelajaran serta membuat lembar pengamatan yang nantinya diberikan kepada observer termasuk juga persiapan membuat media gambar. Observer disini ialah guru kelas II. Pada tahap tindakan pertama-tama guru membuka dengan salam lalu berdoa. Guru praktikan mengenalkan diri terlebih dahulu, setelah itu guru mengabsens siswa dan me nanyakan siapa yang tidak berangkat. Kemudian guru membagikan soal pretest kepada siswa dan siswa mengerjakan soal pretest. Setelah selesai soal dikumpulkan dan guru menerangkan materi. Awalnya siswa diminta untuk mengamati benda-benda yang ada disekitar kelas dan menyebutkan bahan baku serta manfaat dari benda tersebut. Hal Volume 7 Nomor 1, Juni 2015, AL-BIDAYAH 21 Laelatul Badriah & Isna Ma rifah ini dilakukan dengan metode tanya jawab dan diskusi. Guru menerangkan materi dan memperlihatkan media gambar kepada siswa untuk mempermudah pemahaman materi dengan melihat gambar. Untuk awal penggunaan media gambar ini siswa sangat antusias dan pandangan siswa dapat terfokus kedepan, terutama yang duduk di belakang menjadi fokus kedepan. Setelah itu, siswa diminta untuk mengamati gambar dan siswa diminta untuk menyebutkan gambar apa saja yang ada di depan secara bergantian. Karena ukuran gambar yang tidak terlalu besar maka ada beberapa siswa yang berada di belakang berebut maju ke depan untuk melihatnya. Setelah itu guru memberikan gambar macam-macam timbangan. Siswa diminta menyebutkan benda-benda apa saja yang dapat ditimbang dengan masing-masing jenis timbangan. Hasil tanya jawab dengan siswa ditulis oleh guru dipapan tulis. Kemudian guru menanyakan apakah ada materi yang belum diketahui atau belum jelas. Kemudian guru memberikan soal posttest. Siswa diminta untuk mengerjakan soal posttest dengan sungguhsungguh agar hasilnya melebihi KKM yaitu 65. Setelah selesai mengerjakan soal guru memberikan penguatan dan penyimpulan tentang pembelajaran hari itu, kemudian berdoa dan menutup pembelajaran dengan salam. Dalam pertemuan pertama ini ada beberapa catatan-catatan khusus tentang siswa saat mengikuti pembelajaran, yaitu: (1) Siswa antusias pada pembelajaran di awal pelajaran. Pada awal pembelajaran siswa dapat dikondisikan namun tak berapa lama kemudian kegaduhan siswa mulai terlihat. (2) Siswa yang belakang masih suka gaduh saat proses pembelajaran. (3) Siswa dapat aktif dan kondusif apabila guru memberikan soal dengan cara permainan. (4) Penggunaan contoh dengan media gambar dapat membuat siswa terfokus kedepan Saran-saran perbaikan yang diberikan oleh observer dari hasil refleksi siklus I ini antara lain: (1) Tempat duduk siswa yang berkemampuan rendah sebaiknya didepan agar memperhatikan saat guru menerangkan materi, dan agar guru dapat selalu mengontrol saat siswa mengerjakan soal latihan. (2) Siswa yang berkemampuan rendah perlu pendampingan dalam mengerjakan soal. Dari hasil diskusi bersama observer dapat disimpulkan bahwa ketuntasan siswa belum memuaskan, maka observer dan guru praktikan sepakat untuk tindakan perbaikan pada siklus berikutnya, yaitu siklus II. Tabel 1 Hasil Pretest dan Posttest pada Siklus I No Nama Siswa KKM Nilai Nilai Tuntas/ post Tidak pretest test Tuntas 1 Rizal Bani TT 2 Khalisa Belti TT 54 Romansyah 3 Khairan Syah T 70 Salman 4 Ahmad Tholib T 5 Muh. Afrisa TT 58 Pratama 6 Ananda Lutfia T 73 Nur H. 7 Rafy Mahardika T Jatmika 8 Nadine Kayla T 72 Seffa 9 Rijal Hesnu T 68 Prabaswara 10 M. Rizky Nur T 76 Ramadhani 11 Wiwit Arum T 64 Ramadhani 12 Fadli Oktavian T 70 R 22 AL-BIDAYAH, Volume 7 Nomor 1, Juni 2015 Peningkatkan Hasil Belajar Pembelajaran Tematik No Nama Siswa KKM Nilai Nilai post pretest test Tuntas/ Tidak Tuntas 13 Evinda T 65 Ramadhani 14 Dimas TT 38 Wicaksono 15 Riyana Tri T 64 Jayanti 16 Gazi Ataqi T 17 Annisa Dinda T 74 Maharani 18 Mardiyatim T 65 Marsanah 19 Alifian Nur T 72 Febrianto 20 Rafi Al Fikri TT 21 Adam Yogaskara T 22 Tamara Dilla T 67 Saputri 23 Nurvian Arga T 63 Saputri No Nama Siswa KKM Nilai Nilai post pretest test Tuntas/ Tidak Tuntas 24 Muh. Fajar T 76 saputra 25 Adi Nur Saleh T 57 Ibnu S. 26 Siti Ardiyanti T 27 Muh. Rustam aji T 28 Salsa Shalbiyah T 29 Muh. Andieka T 55 alif putra 30 Alya Surya TT 64 Laviana R. Jumlah 2151 Nilai Rata-Rata 71,70 Nilai Tertinggi 100 Nilai Terendah 40 Prosentase 80% Ketuntasan Prosentase 20% Ketidaktuntasan ,17 71, Pretest I Posttest I Gambar 1 Diagram batang hasil pretest dan postest pada siklus I Volume 7 Nomor 1, Juni 2015, AL-BIDAYAH 23 Laelatul Badriah & Isna Ma rifah Siklus II Pada tahap perencanaan siklus II ini mempersiapkan kembali perangkat pembelajaran. Lembar observasi dan media gambarpun juga dipersiapkan oleh guru praktikan. Pada tahap tindakan, pembelajaran diawali dengan salam dan berdoa dan dilanjutkan dengan pemberian motivasi. Selanjutnya guru mengabsen siswa sambil mengkondisikan siswa. Guru mengubah tempat duduk siswa, siswa yang selalu ramai dibelakang dipindah duduk di depan. Dengan harapan siswa yang selalu ramai dapat berkonsentrasi saat duduk di depan. Guru lalu memberikan soal pretest untuk mengetahui kemampuan siswa sebelum materi diajarkan. Guru memberikan motivasi agar siswa lebih bersemangat mengerjakan soal, yaitu siswa yang mendapat nilai 100 akan diberi hadiah oleh guru. Setelah selesai lembar jawaban dikumpulkan dan siswa yang sudah selesai mengerjakan boleh beristirahat di kantin. Ketika siswa istirahat guru praktikan mengoreksi soal pretest siklus II di ruang guru. Tak berapa lama kemudian bel berbunyi tanda jam istirahat sudah selesai. Siswa bergegas masuk kelas kembali untuk mengi
Search Related
Similar documents
View more...
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks