TIM PENYUSUN. Pengarah : Ir. Alidia, MM. Penanggung Jawab : Taryono, M.Si. Editor : Yanuar Henry Pribadi, M.Si Devi Febrianty, ST

Please download to get full document.

View again

of 45
4 views
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.

Download

Document Related
Document Description
TIM PENYUSUN Pengarah : Ir. Alidia, MM Penanggung Jawab : Taryono, M.Si Editor : Yanuar Henry Pribadi, M.Si Devi Febrianty, ST Anggota Penyusun : Kusairi, SSi Tonny Satria Wijaya Kusuma, Skom Yuningsih,
Document Share
Document Transcript
TIM PENYUSUN Pengarah : Ir. Alidia, MM Penanggung Jawab : Taryono, M.Si Editor : Yanuar Henry Pribadi, M.Si Devi Febrianty, ST Anggota Penyusun : Kusairi, SSi Tonny Satria Wijaya Kusuma, Skom Yuningsih, ST Sugiyanti, S.Si Selvy Yolanda, SST Mutiara Halida, S.Tr Ratri Widyastuti, S.Tr i KATA PENGANTAR Buletin ini merupakan laporan rutin setiap bulan yang berisikan informasi mengenai Analisis hujan bulan sebelumnya, informasi Prakiraan hujan untuk tiga bulan kedepan, Analisis kekeringan bulan sebelumnya, Prakiraan tingkat kekeringan bulan berikutnya dan Analisis kadar air tanah bulan sebelumnya. Untuk edisi kali ini berisi Analisis hujan bulan Desember 2017, Prakiraan hujan untuk bulan Februari, Maret dan April 2018, Analisis indeks kekeringan 3 bulanan (Oktober - Desember 2017), Prakiraan indeks kekeringan bulan Februari Analisis hujan diketahui dengan melihat kondisi yang terjadi pada bulan tersebut. Untuk Analisis hujan bulan Desember 2017 sebagian besar wilayah Banten dan DKI Jakarta umumnya curah hujan bersifat Bawah Normal hingga Normal. Kecuali sebagian besar DKI Jakarta bagian Tengah, Timur, Tenggara, Selatan dan Utara, sebagian Tangerang bagian Utara, sebagian wilayah Serang bagian Tengah, Selatan dan Barat Daya, sebagian wilayah Pandeglang bagian Tenggara, Selatan, Barat Laut dan Utara, sebagian kecil Kab Lebak bagian Barat Daya pada umumnya bersifat Atas Normal. Analisis indeks kekeringan tiga bulanan (Oktober Desember 2017) dengan menggunakan metode Standardized Precipitation Index (SPI) di Provinsi Banten dan DKI Jakarta pada umumnya Normal. Kecuali sebagian DKI Jakarta bagian Tenggara dan Tengah, sebagian kecil Kota Tangerang Selatan bagian Timur, sebagian kecil Kab Serang bagian Tengah, sebagian Kab Pandeglang bagian Tenggara dan Selatan, sebagian kecil Kab Lebak bagian Barat Daya Agak Basah hingga Sangat Basah. Sedangkan sebagian kecil Kab Pandeglang bagian Timur Laut bersifat Agak Kering. Informasi prakiraan hujan dihasilkan dari pengolahan data hujan yang ada (time series) dengan membandingkan kondisi dinamika atmosfer yang mempengaruhi wilayah Banten dan DKI Jakarta. Hasil prakiraan hujan bulan Februari 2018 pada umumnya bersifat Normal kecuali DKI Jakarta bagian Barat dan Kab Serang bagian Utara dan Barat bersifat Bawah Normal. Pada bulan Maret 2018 pada umumnya bersifat Normal hingga Atas Normal, kecuali Kab Serang bagian Utara, sebagian Kab Pandeglang bagian Barat Laut dan sebagian Kab Lebak bagian Timur dan Tenggara bersifat Bawah Normal. Sedangkan pada bulan April 2018 pada umumnya prakiraan hujan bersifat Bawah Normal hingga Normal kecuali sebagian Kab Pandeglang bagian Timur dan sebagian Kab Lebak bagian Selatan dan Barat bersifat Atas Normal. Prakiraan indeks kekeringan bulan Februari 2018 merupakan prakiraan SPI dengan menggunakan data curah hujan bulan Desember 2017, serta prakiraan curah hujan bulan Januari dan Februari Prakiraan tingkat kekeringan dan kebasahan bulan Februari 2018 di Provinsi Banten dan DKI Jakarta pada umumnya Normal. Kecuali sebagian kecil Kab Serang bagian Tengah Agak Basah hingga Basah. Sedangkan sebagian Kab Lebak bagian Selatan Agak Kering. Kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian laporan ini. Harapan kami semoga informasi ini bermanfaat sebagai bahan acuan dalam pengambilan kebijakan bagi semua pihak yang berkepentingan. Segala kritik dan saran sangat kami harapkan guna peningkatan kualitas publikasi ini. Semoga bermanfaat. Tangerang Selatan, Januari 2018 KEPALA STASIUN KLIMATOLOGI TANGERANG SELATAN ii Ir. ALIDIA, MM NIP DAFTAR ISI TIM PENYUSUN... II i KATA PENGANTAR... III ii DAFTAR ISI... IV iii 1 TINJAUAN UMUM Curah Hujan Curah Hujan Kumulatif Satu Bulan Sifat Hujan Intensitas Hujan Cuaca Ekstrim SOI (Southern Oscillation Index) DMI (Dipole Mode Index) Kekeringan Jenis-jenis kekeringan Standardized Precipitation Index (SPI) Peta Normal Curah Hujan ANALISIS HUJAN BULAN DESEMBER Analisis Sifat Hujan Bulan Desember Analisis Curah Hujan Bulan Desember Informasi Cuaca/Iklim Ekstrem Bulan Desember Iklim Mikro Stasiun Klimatologi Tangerang Selatan Bulan Desember Data Iklim Bulan Desember 2017 Stasiun BMKG Provinsi Banten dan DKI Jakarta PRAKIRAAN HUJAN BULAN FEBRUARI, MARET DAN APRIL Kondisi Dinamika Atmosfer Secara Global Prakiraan Kondisi Hujan Bulan Januari Prakiraan Sifat Hujan Bulan Februari Prakiraan Curah Hujan Bulan Februari Prakiraan Sifat Hujan Bulan Maret Prakiraan Curah Hujan Bulan Maret Prakiraan Sifat Hujan Bulan April Prakiraan Curah Hujan Bulan April PRAKIRAAN POTENSI BANJIR PROVINSI BANTEN DAN DKI JAKARTA Prakiraan Potensi Banjir Bulan Februari Prakiraan Potensi Banjir Bulan Maret ANALISIS INDEKS KEKERINGAN DAN KEBASAHAN BULAN DESEMBER 2017 DI PROVINSI BANTEN DAN DKI JAKARTA PRAKIRAAN INDEKS PRESIPITASI TERSTANDARISASI (SPI) 3 BULANAN PERIODE DESEMBER FEBRUARI 2018 DI PROVINSI BANTEN DAN DKI JAKARTA ANALISIS KADAR AIR TANAH BULAN DESEMBER 2017 PROVINSI BANTEN DAN DKI JAKARTA LAMPIRAN 1. ANALISIS HUJAN WILAYAH BANTEN DAN DKI JAKARTA BULAN DESEMBER LAMPIRAN 2. PRAKIRAAN HUJAN WILAYAH BANTEN DAN DKI JAKARTA BULAN FEBRUARI LAMPIRAN 3. PRAKIRAAN HUJAN WILAYAH BANTEN DAN DKI JAKARTA BULAN MARET LAMPIRAN 4. PRAKIRAAN HUJAN WILAYAH BANTEN DAN DKI JAKARTA BULAN APRIL LAMPIRAN 5. INDEKS SPI TIGA BULANAN DI PROVINSI BANTEN DAN DKI JAKARTA LAMPIRAN 6. PETA SEBARAN POS HUJAN UNTUK EVALUASI BULANAN iii 1 TINJAUAN UMUM 1.1 Curah Hujan Curah hujan merupakan ketinggian air hujan yang jatuh pada tempat yang datar dengan asumsi tidak menguap, tidak meresap dan tidak mengalir. Curah hujan 1 (satu) mm adalah air hujan setinggi 1 (satu) mm yang jatuh (tertampung) pada tempat yang datar seluas 1m 2 dengan asumsi tidak ada yang menguap, mengalir dan meresap. 1.2 Curah Hujan Kumulatif Satu Bulan Curah hujan kumulatif 1 (satu) bulan adalah jumlah curah hujan yang terkumpul selama 28 atau 29 hari untuk bulan Pebruari dan 30 atau 31 hari untuk bulan-bulan lainnya. 1.3 Sifat Hujan Sifat hujan merupakan perbandingan antara jumlah curah hujan kumulatif selama satu bulan di suatu tempat dengan rata-ratanya atau normalnya pada bulan dan tempat yang sama. Sifat hujan dibagi menjadi 3 (tiga) kategori, yaitu : a. Sifat Hujan Atas Normal (AN) : jika nilai curah hujan lebih dari 115% terhadap rata-ratanya. b. Sifat Hujan Normal (N) : jika nilai curah hujan antara 85% - 115% terhadap rata-ratanya. c. Sifat Hujan Bawah Normal (BN) : jika nilai curah hujan kurang dari 85% terhadap rata-ratanya. Rata-rata curah hujan bulanan didapat dari nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan dengan minimal periode 10 tahun. Sedangkan normal curah hujan bulanan didapat dari nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan selama periode 30 tahun. 1.4 Intensitas Hujan Intensitas hujan merupakan besarnya hujan harian yang terjadi pada suatu waktu. Umumnya memiliki satuan mm/jam. Intensitas hujan dibagi menjadi 3 (tiga) kategori, yaitu : a. Enteng (tipis) : jika nilai curah hujan kurang dari 13 mm/jam b. Sedang : jika nilai curah hujan antara mm/jam c. Lebat : jika nilai curah hujan lebih dari 38 mm/jam 1 1.5 Cuaca Ekstrim Cuaca ekstrim, yaitu keadaan cuaca yang terjadi bila: 1. Jumlah hari hujan yang tercatat paling banyak melebihi harga rata-rata pada bulan yang bersangkutan di stasiun tersebut. 2. Intensitas hujan terbesar dalam 1 (satu) jam selama periode 24 jam dan intensitas dalam 1 (satu) hari selama periode satu bulan yang melebihi rata-ratanya. 3. Terjadi kecepatan angin 45 km/jam dan suhu udara 35 o C atau 15 o C. Curah hujan Ekstrim : Curah Hujan dengan intensitas 50 milimeter per hari menjadi parameter terjadinya hujan dengan intensitas lebat. Sedangkan curah hujan ekstrim memiliki curah hujan 100 milimeter per hari. (Jaja Supiatna, Diklat Meteorologi Publik 2008) 1.6 SOI (Southern Oscillation Index) Indeks ini menunjukan perbedaan tekanan udara antara daerah Tahiti (mewakili daerah Amerika Selatan) dan Darwin (mewakili India-Australia). Jika nilai SOI negatif, berarti tekanan udara permukaan sepanjang Amerika Selatan lebih tinggi daripada wilayah India- Australia, dan jika SOI positif akan terjadi sebaliknya. 1.7 DMI (Dipole Mode Index) Fenomena Dipole Mode Indeks (DMI) yaitu fenomena yang ditandai dengan interaksi laut-atmosfer di Samudera Hindia, dimana terjadi penurunan suhu muka laut dari keadaan normalnya di Samudera Hindia tropis bagian timur (pantai barat Sumatera) dan kenaikan temperatur dari normalnya di Samudera Hindia tropis bagian barat atau bagian timur Afrika, Menganalisis kejadian DMI digunakan indeks sederhana, yaitu berupa dipole anomali suhu muka laut yang didefinisikan sebagai perbedaan anomali suhu muka laut Samudera Hindia bagian timur ( BT / 10 LS ekuator) dan Samudera Hindia bagian barat (50-70 BT / 10 LS - 10 LU). Pada saat DMI (+) terjadi penurunan curah hujan di wilayah Indonesia Bagian Barat, sebaliknya apabila DMI (-) terjadi peningkatan curah hujan di wilayah Indonesia Bagian Barat. 1.8 Kekeringan Kekeringan merupakan salah satu jenis bencana alam yang terjadi secara perlahan (slow-onset disaster), berdampak sangat luas, dan bersifat lintas sektor (ekonomi, sosial, kesehatan, pendidikan, dan lain-lain). Kekeringan merupakan fenomena alam yang tidak dapat dielakkan dan merupakan variasi normal dari cuaca yang perlu dipahami.variasi alam dapat terjadi dalam hitungan hari, minggu, bulan, tahun, bahkan abad. Dengan melakukan penelusuran data cuaca dalam waktu yang panjang, akan dapat dijumpai variasi cuaca yang beragam, misalnya: bulan basah-bulan kering, tahun basah-tahun kering, dan dekade basah-dekade kering. Berkurangnya curah hujan biasanya ditandai dengan berkurangnya air dalam tanah sehingga pertanian merupakan sektor pertama yang akan terpengaruh. Cukup sulit untuk mengetahui kapan kekeringan akan dimulai atau berakhir, dan kriteria apa yang digunakan untuk menentukannya. Apakah kekeringan itu berakhir ditandai dengan faktor-faktor meteorologi dan klimatologi atau ditandai dengan berkurangnya dampak negatif yang dialami oleh manusia dan lingkungannya. 2 1.9 Jenis-jenis kekeringan a. Kekeringan Meteorologis Kekeringan ini berkaitan dengan tingkat curah hujan yang terjadi berada dibawah kondisi normalnya pada suatu musim. Perhitungan tingkat kekeringan meteorologis merupakan indikasi pertama terjadinya kondisi kekeringan. Intensitas kekeringan berdasarkan definisi meteorologis adalah sebagai berikut; 1. Kering: apabila curah hujan antara 70% - 85% dari kondisi normal (curah hujan dibawah normal) 2. Sangat kering : apabila curah hujan antara 50% - 70% dari kondisi normal (curah hujan jauh dibawah normal) 3. Amat sangat kering : apabila curah hujan 50% dari kondisi normal (curah hujan amat jauh dibawah normal) b. Kekeringan Pertanian Kekeringan ini berhubungan dengan berkurangnya kandungan air dalam tanah (lengas tanah) sehingga tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan air bagi tanaman pada suatu periode tertentu. Kekeringan pertanian ini terjadi setelah terjadinya gejala kekeringan meteorologis. Intensitas kekeringan berdasarkan definisi pertanian adalah sebagai berikut : 1. Kering : apabila ¼ daun kering dimulai pada bagian ujung daun (terkena ringan s/d sedang) 2. Sangat kering : apabila ¼ - 2/3 daun kering dimulai pada bagian ujung daun (terkena berat) 3. Amat sangat kering : apabila seluruh daun kering (terkena puso) c. Kekeringan Hidrologis Kekeringan ini terjadi berhubungan dengan berkurangnya pasokan air permukaan dan air tanah. Kekeringan hidrologis diukur dari ketinggian muka air sungai, waduk, danau dan air tanah. Ada jarak waktu antara berkurangnya curah hujan dengan berkurangnya ketinggian muka air sungai, danau dan air tanah, sehingga kekeringan hidrologis bukan merupakan gejala awal terjadinya kekeringan. Intensitas kekeringan berdasarkan definisi hidrologis adalah sebagai berikut : 1. Kering : apabila debit air sungai mencapai periode ulang aliran dibawah periode 5 tahunan 2. Sangat kering : apabila debit air sungai mencapai periode ulang aliran jauh dibawah periode 25 tahunan 3. Amat sangat kering : apabila debit air sungai mencapai periode ulang aliran amat jauh dibawah periode 50 tahunan d. Kekeringan Sosial Ekonomi Kekeringan ini terjadi berhubungan dengan berkurangnya pasokan komoditi yang bernilai ekonomi dari kebutuhan normal sebagai akibat dari dari terjadinya kekeringan meteorologis, pertanian dan hidrologis Standardized Precipitation Index (SPI) Standardized Precipitation Index (SPI) adalah indeks yang digunakan untuk menentukan penyimpangan curah hujan terhadap normalnya dalam susatu periode waktu yang panjang (bulanan, dua bulanan, tiga bulanan dst). Nilai SPI dihitung menggunakan metode statistik probabilitas distribusi gamma. 3 Beberapa kelebihan yang dimiliki oleh SPI adalah : SPI dapat dihitung untuk skala waktu yang berbeda Dapat memberikan peringatan dini kekeringan Dapat membantu menilai tingkat keparahan kekeringan SPI lebih sederhana daripada Palmer Drought Severity Index Berdasarkan nilai SPI, ditentukan kategori tingkat kekeringan dan kebasahan sebagai berikut: a) Tingkat Kekeringan 1. Sangat Kering : Jika nilai SPI -2,00 dengan probabilitas 2,3% 2. Kering : Jika nilai SPI 1,50 s/d -1,99 dengan probabilitas 4,4% 3. Agak Kering : Jika nilai SPI -1,00 s/d -1,49 dengan probabilitas 9,2% b) Normal : Jika nilai SPI -0,99 s/d 0,99 dengan probabilitas 68,2% c) Tingkat Kebasahan 1. Sangat Basah : Jika nilai SPI 2,00 dengan probabilitas 2,3% 2. Basah : Jika nilai SPI 1,50 s/d 1,99 dengan probabilitas 4,4% 3. Agak Basah : Jika nilai SPI 1,00 s/d 1,49 dengan probabilitas 9,2% Curah Hujan Tiga Bulanan adalah jumlah curah hujan selama tiga bulan, yang digunakan sebagai dasar untuk menghitung nilai SPI. 4 1.11 Peta Normal Curah Hujan Gambar 1. Peta Normal Hujan Bulan Desember Provinsi Banten dan DKI Jakarta Gambar 2. Peta Normal Hujan Bulan Februari Provinsi Banten dan DKI Jakarta Gambar 3. Peta Normal Hujan Bulan Maret Provinsi Banten dan DKI Jakarta Gambar 4. Peta Normal Hujan Bulan April Provinsi Banten dan DKI Jakarta 5 2 ANALISIS HUJAN BULAN DESEMBER 2017 Berdasarkan data curah hujan yang diterima dari Stasiun/Pos hujan di Provinsi Banten dan DKI Jakarta, maka analisis curah hujan bulan Desember 2017 dapat diinformasikan sebagai berikut : 2.1 Analisis Sifat Hujan Bulan Desember 2017 SIFAT HUJAN Bawah Normal (BN) Normal (N) Atas Normal (AN) WILAYAH Sebagian DKI Jakarta bagian Barat, Sebagian besar Kab Tangerang kecuali bagian Barat, Barat Laut, Utara dan Timur Laut, Sebagian Kota Tangerang bagian Barat dan Tengah, Sebagian Kota Tangerang Selatan bagian Barat, Sebagian Kab Serang bagian Tenggara, Barat, Utara dan Timur Laut, Sebagian Kab Pandeglang bagian Timur Laut, Tengah dan Barat, Sebagian besar Kab Lebak kecuali bagian Timur, Barat Daya dan Barat Sebagian DKI Jakarta bagian Barat Daya, Barat Laut dan Timur Laut, Sebagian Kab Tangerang bagian Barat, Barat Laut dan Timur Laut, Sebagian Kota Tangerang bagian Timur Laut, Timur dan Tenggara, Sebagian besar Kota Tangerang Selatan kecuali bagian Barat, Sebagian Kab Serang bagian Timur, Selatan dan Barat Laut, Sebagian Kab Pandeglang bagian Barat Daya dan Tengah, Sebagian Kab Lebak bagian Timur Laut dan Timur Sebagian besar DKI Jakarta kecuali bagian Barat Daya, Barat, Barat Laut dan Timur Laut, Sebagian Kab Tangerang bagian Utara, Sebagian Kab Serang bagian Tengah, Selatan dan Barat Daya, Sebagian Kab Pandeglang bagian Tenggara, Selatan, Barat Laut dan Utara Gambar 5. Peta Distribusi Sifat Hujan Bulan Desember 2017 Provinsi Banten dan DKI Jakarta 6 2.2 Analisis Curah Hujan Bulan Desember 2017 CURAH HUJAN Rendah (0 100 mm) Menengah ( mm) Tinggi ( mm) Sangat Tinggi 400 mm WILAYAH Sebagian Kab Serang bagian Utara Sebagian besar DKI Jakarta kecuali sebagian kecil di bagian Tengah, Seluruh Kab Tangerang, Kota Tangerang dan Kota Tangerang Selatan, Sebagian besar Kab Serang kecuali bagian Utara, Barat Daya dan Barat, Sebagian Kab Pandeglang bagian Timur Laut, Sebagian besar Kab Lebak kecuali bagian Tenggara, Barat Daya dan Barat Sebagian kecil DKI Jakarta bagian Tengah, Sebagian Kab Serang bagian Barat Daya dan Barat, Sebagian Kab Pandeglang bagian Tengah, Barat dan Utara, Sebagian Kab Lebak bagian Tenggara dan Barat Sebagian Kab Serang bagian Barat Daya, Sebagian Kab Pandeglang bagian Tenggara, Selatan, Barat Daya, Barat Laut dan Tengah, Sebagian kecil Kab Lebak bagian Barat Daya Gambar 6. Peta Distribusi Curah Hujan Bulan Bulan Desember Desember Provinsi Provinsi Banten Banten dan dan DKI DKI Jakarta Jakarta 7 2.3 Informasi Cuaca/Iklim Ekstrem Bulan Desember 2017 KRITERIA TERJADI TANGGAL Angin dengan kecepatan 45 km/jam - Stasiun Meteorologi Tanjung Priok - Tgl 1 Desember 2017 : 50 km/jam - Tgl 4 Desember 2017 : 49 km/jam - Tgl 11 Desember 2017 : 52 km/jam Suhu Udara 35 O C - Stasiun Klimatologi Tangerang Selatan - Tgl 7 Desember 2017 : 35.6 C - Stasiun Geofisika Tangerang - Tgl 6 Desember 2017 : 35.2 C - Stasiun Meteorologi Tanjung Priok - Tgl 24 Desember 2017 : 35.3 C Suhu Udara 17 O C - Kelembaban Udara 40 % - - DKI Jakarta - Pakubuwono Tgl 12 Desember 2017 : 116 mm Curah Hujan Harian 100 mm - Serang - Ciomas Tgl 1 Desember 2017 : 106 mm - Mancak Tgl 1 Desember 2017 : 117 mm - Pandeglang - Mandalawangi Tgl 12 Desember 2017 : 110 mm 2.4 Iklim Mikro Stasiun Klimatologi Tangerang Selatan Bulan Desember 2017 Pada grafik disamping menunjukkan bahwa bulan Desember 2017, intensitas hujan dengan kategori Enteng 26%, Sedang 13%, Lebat 6% dan Tidak ada hujan 55%. Gambar 7. Intensitas Hujan Harian pada Area Tangerang Selatan Bulan Desember Pada bulan Desember 2017 suhu udara rata-rata di wilayah Tangerang Selatan kisaran nilai o C. Suhu maksimum absolut ditunjukkan dengan garis merah adalah bernilai 35.6 o C terjadi pada tanggal 6 dan 7. Sedangkan suhu minimum absolut ditunjukkan dengan garis biru terjadi pada tanggal 14 adalah sebesar 21.0 o C. Gambar 8. Suhu Udara Harian pada Area Tangerang Selatan Bulan Desember 2017 Kelembaban Udara yang tercatat di Stasiun Klimatologi Tangerang Selatan pada bulan Desember 2017 bernilai maksimum pada tanggal 20 sebesar 96% sedangkan bernilai minimum pada tanggal 6 sebesar 67%. Gambar 9. Kelembaban Udara Harian pada Area Tangerang Selatan Bulan Desember 2017 Gambar windrose bulan Desember 2017 menunjukkan bahwa angin yang terjadi pada bulan tersebut sebagian besar berasal dari arah Barat dan untuk frekuensi kejadian dengan kategori 6-8 knots sebesar 22.6%, 8-10 knots sebesar 22.6%, knots sebesar 25.8%, 12 knots sebesar 29%. Gambar 10. Windrose Area Tangerang Selatan Bulan Desember Dari gambar disamping terlihat bahwa lama penyinaran matahari pada bulan Desember 2017, bernilai maksimum pada tanggal 3 dan 25 sebesar 100% sedangkan bernilai minimum pada tanggal 13, 14, 20 dan 30 sebesar 0%. Gambar 11. Lama Penyinaran Matahari Harian pada Area Tangerang Selatan Bulan Desember 2017 Nilai rata-rata penguapan yang terukur pada Panci Penguapan bulan Desember 2017 sebesar 3.6 mm. Nilai maksimum tercatat pada tanggal 6 sebesar 6.9 mm dan bernilai minimum pada tanggal 16 dan 20 sebesar 1.0 mm. Sedangkan untuk penguapan yang terukur pada ruangan (Piche) ratarata sebesar 2.4 mm. Nilai maksimum tercatat pada tanggal 26 sebesar 4.3 mm dan bernilai minimum pada tanggal 22 dengan nilai 0.4 mm. Gambar 12. Penguapan Udara pada Area Tangerang Selatan Bulan Desember Gambar 13. Temperatur Tanah Gundul dan Tanah Berumput Rata-rata pada Area Tangerang Selatan Bulan Desember Data Iklim Bulan Desember 2017 Stasiun BMKG Provinsi Banten dan DKI Jakarta No Pos Hujan Stasiun Klimatologi Tangerang Selatan Stasiun Meteorologi Curug Stasiun Meteorologi Serang Stasiun Maritim Tanjung Priok Stasiun Meteorologi Cengkareng Stasiun Geofisika Tangerang Stasiun Meteorologi Kemayoran Temperatur Rata - rata( 0 C) Ratarata Maks Min Kelembaban Udara (%) Lama Penyinaran Matahari (%) Jumlah (mm) Hujan Hari Hujan (hari) Sumber : UPT BMKG Banten dan DKI Jakarta 11 3 PRAKIRAAN HUJAN BULAN FEBRUARI, MARET DAN APRIL Kondisi Dinamika Atmosfer Secara Global
Search Related
Similar documents
View more...
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks